Selasa, 06 Juli 2021

Mortenson's Shift

 






Khatam sudah dua jilid buku Mortenson. Buku pertama Three Cups of Tea (2006), baru saya  selesaikan kemarin. Buku kedua Stones into Schools (2010), saya beli tahun 2013, tapi baru saya baca tahun kemarin.... . Tuh kaan, i am a good   book collector but not a good book reader.

Greg Mortenson seorang pendaki gunung profesional, mengalami titik balik dalam hidupnya pada 1993. Ia gagal menyelesaikan pendakian puncak K2 Pegunungan Karakhoram, Himalaya, yang diyakini sebagai gunung tertinggi kedua di dunia. Ia mengalami keletihan kronis dan kehilangan orientasi. Terseok-seok ia berjalan turun sampai total hilang kesadaran di desa Korphe, sebuah tempat di Pakistan yang sangat terisolir.

Nurmadhar (kepala desa) Haji Ali merawatnya hingga beberapa hari kemudian ia siuman. Waktu seolah terhentoi di desa ini. Isolasi dan diskriminasi membuat desa ini nyaris tak menikmati kemajuan. Pejabat Pakistan yang didominasi etnis Punjabi tak melirik wilayah  yang dihuni suku Wakhi , yang masih terhubung  secara antropologis dengan  suku-suku yang menghuni wilayah Afganistan.  Haji Ali mengungkapkan kegelisahannya karena tiadanya pendidikan bagi anak-anak Korphe. Mortenson berjanji akan membantu mendirikan sekolah dasar untuk mereka.

Ia sendiri sama sekali bukan orang kaya. Pendidikan formalnya adalah sarjana keperawatan. Ketahanan fisik diperolehnya dari latar belakangnya sebagai pendaki gunung dan dinas wajib militer. Ketahanan mentalnya didapat dari latar masa kecilnya di Tanzania. Belasan tahun pertama dalam hidupnya dihabiskan di sana bersama orang tuanya yang sepasang misionaris beserta kedua adiknya.

Ia memilih bekerja paruh waktu di rumah sakit, itupun hanya saat- saat tertentu dalam setahun,  sebab sering kali sibuk dengan urusan pendakiannya.  Harta miliknya hanyalah sebuah mobil tua yang jok belakangnya bisa disulap menjadi tempat tidur. Malam hari ia memarkir mobilnya di area pergudangan pelabuhan yang tenang. Ia menyewa sebuah locker untuk menyimpan barang-barang pribadi. Siang hari selepas bekerja ia lebih banyak berlatih panjat tebing di sebuah klab untuk melatih kemampuan fisiknya dan untuk bisa mandi gratis. “Saya hidup nyaris seperti biarawan dengan menu paket sarapan 99 sen, “ tulisnya.

Untuk mewujudkan janjinya kepada penduduk Korphe  ia menulis 580 surat dan proposal kepada berbagai pihak : lembaga, orang-orang terkenal dan anggota dewan. Nyaris tanpa hasil. Di ujung keraguannya ia berjumpa Jean Hoerni seorang dokter yang meninggalkan profesinya dan menjadi pengusaha dari beberapa industri besar. Hoerni mencukupi pembiayaan sekolah di Korphe.

Menjelang keamtiannya, Hoerni  juga  mewariskan sejumlah besar uang untuk modal awal pendirian Central Asia Institute, sebuah yayasan yang dikepalai Mortenson, yang bertujuan memajukan pendidikan anak-anak di Asia Tengah. Sejak itu hidup Mortenson berubah. Ia tidak lagi bekerja sebagai jura rawat dalam waktu-waktu tertentu dan menjalani sisanya dengan mendaki gunung. Beberapa bulan dalam setahun ia berada di Pakistan untuk memimpin beberapa orang stafnya mengembangkan pendidikan di beberapa wilayah terpencil di Pakistan.

Itu ringkasan buku pertama. Buku kedua, Stone into Schools, bercerita tentang misi yang sama di Afganistan. Saat Mortenson berada di Korphe, sepasukan pria berkuda mendatanginya. Mereka adalah utusan Abdul Rashid Khan,  kepala suku Kirgish di Koridor Wakan, wilayah terpencil di Afganistan. Mereka minta Mortenson berjanji untuk mendirikan sekolah di daerah mereka. Saat itu Central Asia Institute belum terbentuk. Uang dari donatur hanya cukup untuk membangun sekolah di Korphe.

Tapi Mortenson bertekad mewujudkan janjijya. Hal itu baru bisa dilaksanakan 10 tahun kemudian. Inilah yang diceritakan dalam  buku  kedua.

Membaca kedua buku ini saya seperti melayang ke lereng Himalaya di sisi Pakistan Karakoram, Hindu Kush berlanjut ke koridor Wakhan menuju Lembah Panjshir. Saya diajak  menyelami tradisi suku-suku di Pakistan dan Afganistan. Benar kata seorang teman Facebook bahwa  suku-suku tersebut berbasis klan. Mau mengerjakan sesuatu di sana ? Pegang nurmadhar-nya, karena tangan-tangan pemerintahan yang sah tidak menjangkau mereka.

Satu pengertian lagi bahwa  suku-suku  yang ditulis dalam buku ini adalah penganut Islam moderat, jauh dari gambaran Islam model Taliban. Sebagian adalah penganut mazhab Ismailiyah.  Saat Mortenson bekerja  di Pakistan, sejumlah syaikh dari Arab mensuplai banyak uang untuk mendirikan semacam madrasah Wahabi di pedalaman. Mereka inilah yang akan menjadi “stok” kombatan di Afgaistan. Sebagian nurmadhar tidak suka tapi mereka tidak berdaya karena keterhimpitan ekomomi dan akses partisipasi politik.

Bagitu, #Kisahku_dengan_buku kali ini.  Energi baik akan ketemu energi baik.  Tentu tidak sesederhana itu  karma bekerja.  Saya   tidak meyakini   hal seperti itu sebagai sebuah kepastian. Hal baik tidak selalu berbuah baik. Tapi, saya selalu bersyukur jika kebaikan dan kemurahan hati saling bertaut dan berbuah indah bagi pemuliaan kemanusiaan.

 



Minggu, 20 September 2020

Ziarah

 Aku suka lan-jalan, apapun metodenya. Backpacking sorang-an, dua-an, keluarga-an juga gerombolan, eh... rombongan maksudnya. Tapi hampir sepanjang tahun ini gak bisa ke mana-mana kan ? Jadi, posting foto-foto lama saja sambil berdendang, “Terkenang-kenang wajahmuuu.... dalam rupa yang manis.....”


Biasa pergi sorangan atau bersama keluarga dalam kelompok kecil, kemudian pergi berombongan apalagi labelnya “ziarah” itu susuwatu banget dah! Gratis pula!


Sesudah meninggalkan bangku sekolah, nyaris aku tak pernah jalan-jalan dalam jangka berhari-hari dalam rombongan besar. Ada enaknya sih. Segala susu-asma perjalanan sudah diurus orang lain, bahkan uang saku pun dikasih. Nikmat apalagi hendak kaudustakan hidup di alam Pancasila ini. Kita cuma tinggal duduk, makan, ngantuk-antuk, menikmati perjalanan, turun lalu ... namanya ziarah ya berdoalah. Hehe....


Untuk bisa menikmati perjalanan bersama rombongan besar begini butuh kesabaran dan kerendah-hatian. Usia, latar belakang, minat yang berbeda bisa saja menimbulkan sedikit kejengkelan. Biasa sat-set serba cepat dan praktis, sekarang harus menyesuaikan dengan keinginan banyak orang. Irama perjalanan jadi lambat.


Lambat ini nikmat. Irama hidup tak perlu dipacu kencang terus-menerus. Slow your dance, enjoy the music, give the soul to your every movement, have the taksu !

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10221867325408241&id=1111389015

Jumat, 31 Juli 2020

Bakpao

Bakpao Sederhana


Bahan 1:
250 gram terigu
2,5 sdm gula halus
1/2 sdt garam halus
1 sdm mentega putih
1 kuning telur

Bahan 2:
1 sdm fermipan
1 sdm gula halus
150 ml air hangat

Cara:
1. Tepung, gula, garam diaduk.
2. Campurkan dan aduk bahan 2 dalam gelas. Diamkan 5 menit sampai agak berbusa, lalu masukkan kuning telur, aduk rata.
3. Masukkan adonan bahan 2 ke dalam adonan tepung.  Uleni sampai kalis.
4. Setelah kalis, masukkan mentega yg sudah dicairkan. Uleni lagi sampai kalis atau permukaannya halus.
5. Diamkan 1 jam, tutup dengan serbet basah.
6. Buat bulatan2, pipihkan , beri isi. Bagian bawah beri pelapis kertas roti atau daun pisang. Biarkan 15 menit.
7. Kukus selama sekitar 10 menit.  Tutup kukusan dibungkus dengan serbet basah.

Minggu, 26 Juli 2020

1997 The Year in Review

Harike-6: 1997 The Year in Review
Yang paling terkenang dari 1997adalah kematian Diana, mantan Puteri Wales. Hidupnya bagai mimpi. Dari guru TK yang tenang tanpa sensasi ia bermetamorfosa menjadi calon permaisuri yang tak henti dikejar sorot kamera paparazi. Tanpa ampun mereka memburu Sang Puteri, hingga mobil berkecepatan tinggi yang membawanya bersama kekasih barunya menabrak partisi terowongan Place de l’Alma, Paris. Mati.
Buku ini merupakan hadiah langanan majalah berita Time. Seperti biasa setiap orang yang berlangganan majalah itu dalam durasi setengah atau setahun, mereka akan mendapatkan hadiah yang terasa eksklusif. Pernah lho, suatu saat hadiah yang diberikan adalah kamera semi digital berbentuk pulpen. Seperti anggota BIN aja... .
Kembali ke buku. Tahun 1997 bukan cuma menjadi penanda kematian Diana yang fenomenal itu. Tatapi juga banyak peristiwa penting lainnya. Antara lain seperti dilihat di sampul belakang, di bidang ilmu pengetahuan misalnya, pesawat Pathfinder mendarat di planet Mars, juga telah berhasil dikloning seekor domba bernama Dolly. Peristiwa lainnya, Mike Tyson menggigit telinga Evander Holyfield, kematian perancang mode Versace karena ditembak oleh Andre Cunanan, komet Hale-Bopp mengunjungi atmosfir bumi setelah kunjungan terakhirnya 4200 tahun yang lalu.
Berbagai peristiwa itu tersapu oleh kejadian tragis dini pagi, 31 Agustus 1997. Beberapa menit menjelang pergantian hari, Diana keluar dari hotel Ritz bersama kekasihnya Dody Al Fayed 41 tahun, Diana sendiri 36 saat itu. Karena banyak paparazi menghadang, mereka memutar ke pintu belakang. Gerombolan pemburu gambar itu tak membiarkan buruannya lepas. Mereka mengejar. Dengan kecepatan tinggi mobil mobil Mercedes hitam berisikan Diana, Dody Al Fayed, pengawalnya Trevor Rees-John dan sopir Henri Paul itu melesat.
Saksi mata mengatakan mereka melihat mobil itu memasuki terowongan sekitar pukul 00.30, diikuti rombongan paparazi di atas skuter dan motor. Sejenak kemudian terdengar suara ledakan. Sedan mewah itu menabrak partisi jalan, jungkir balik penuh 360 derajat dan berputar hampir 180 derajat saat terhenti. Mobil itu ringsek. Para paparazi terus merangsek, menembakkan kilat kamera ke arah penumpangnya yang sekarat, terutama Diana.
Diana, boleh jadi merupakan personifikasi mimpi banyak orang. Meski ia memiliki wangsa bangsawan, hidupnya sederhana saja. Usia remajanya pupus oleh pernikahan kerajaan. Tidak seperti dongeng kanak-kanak yang selalu ditutup kalimat “puteri cantik dan baik hati itu bertemu pangeran. Mereka menikah dengan pesta meriah, tinggal di istana mewah, dan hidup bahagia selamanya.” Setelah bertahun hidup dalam rumah tangga yang gersang, keduanya resmi bercerai pada Agustus 1996.
Setahun berikutnya, Juli 1997, Al Fayed Senior, megundang Diana dan dua anaknya berlibur ke vilanya di St. Tropez. Keluarga Diana telah mengenal keluarga ini cukup lama. Sesudah itu kedekatan Diana dan Al Fayed Junior tak terhindarkan dari buruan kamera. Sebuah tabloid mau membayar $ 200.000 untuk foto-foto mereka di atas yacht di hamparan laut biru Mediterania.
Setelah tahun-tahun panjang perkawinannya yang garing, hubungannya dengan lelaki lain yang bermulut cablak, Sang Puteri seperti menemu hati untuk cinta sejati. Tetapi kebersamaan mereka bahkan tak sampai seumur jagung.
Agustus 1997 keduanya bersama menjemput ajal. Kematian yang diratapi banyak kalangan penduduk bumi, dan dikenang lintas generasi.

Senin, 08 Juli 2019

Sang Pewarta Passura’ Suci

Sang Pewarta Passura’ Suci


Pastor Yans Sulo Paganna’ segera menarik perhatian saya saat penerimaan rombongan PKSN dari Makasar di pastoran Makale. Ia salah seorang yang menyampaikan pidato. Sementara yang lain menggunakan bahasa Indonesia, ia menggunakan bahasa Toraja. Lengkap dengan pantun-pantun yang tentu tak dapat saya tangkap maknanya, tetapi saya pahami keindahannya.
Ia mengenakan pakaian khas Toraja warna kuning terang. Pasapu atau tutup kepalanya berbeda dengan yang lain. Miliknya berhiaskan lidi dan bulu-bulu ayam. Konon, ini hanya digunakan oleh orang-orang tertentu. Ia memang seorang pelaksana tata upacara adat Toraja.
“Ayam adalah lambang kejujuran,” demikian katanya, sedikit mengupas filosofi Toraja. Ia seperti ensiklopedi yang terbuka untuk kita belajar tentang Toraja. Pengetahuannya dituangkan ke dalam buku berjudul “Bisikan Suci Passura’ Toraya”, 2018. Ini buku tentang makna di balik ukiran Toraja yang terkenal itu.
Dalam ukiran atau passura’ terkandung nilai-nilai local wisdom Tana Toraja yang diukir dalam simbol-simbol sehingga diharapkan mereka mampu hidup dalam keselarasan. Hal itu misalnya hidup dalam bingkai kesucian dalam motif pa’bua kapa’; kejujuran dalam motif pa’ barra’-barra’; kebersamaan seirama dengan orang lain dalam motif pa’re’po sangbua; altruisme atau berbagi dengan sesama dalam motif limbongan; kerendahan hati dalam motif pa’tuku pare; kokoh dalam prinsip dalam motif pa’kalungkung, dll.
Motif-motif itu terukir indah dalam rumah tongkonan atau rumah adat Toraja. Empat warna dasar yang digunakan adalah merah, hitam, hijau dan kuning, sehingga terlihat cerah. Ukiran harus dibuat dengan teliti dan sepenuh hati sebab seorang tukang ukir tongkonan bukan sekedar bekerja tetapi ia merangkai doa abadi bagi rumpun keluarga pemilik tongkonan. Doa atau pekerjaannya tak boleh salah sebab akan mendatangkan kemalangan. Sebaliknya doa yang tepat akan membuahkan rahmat berlimpah.
Itu sedikit bahasan mengenai buku Rm. Yans Sulo. Ini buku yang amat berharga agar generasi selanjutnya memahami filosofi itu, yang kebanyakan masih disampaikan secara lisan. Verba volant scripta manent.
Saya berharap Rm. Yans Sulo setia menulis lagi tentang nilai-nilai kebijaksanaan lokal Toraja. Meski bagi sayapun, menulis buku (yang bukan saleable) seperti menapaki jalan sunyi, sebuah laku sepi ing pamrih. Sendiri gelisah mengolah dan menyaring ide-ide yang bersliweran liar di kepala. Sendiri menjumpai para narasumber. Sendiri mencari donatur yang mau menerbitkan. Masih lumayanlah kalau hasilnya diapresiasi. Sangat sering, kerabat maunya dapat gratisan padahal dibaca pun tidak.
Tapi, ashudahlah. Tiap orang memilih jalannya dan tahu resikonya. Mari berjalan, mari bersetia.




Kamis, 04 Juli 2019

Romo Carol Patampang, Tuan Rumah PKSN

Namanya RD Carolus Patampang. Dari namanya saja, jelas dia orang asli Toraja. Meski bagi saya, kulitnya yang sedikit gelap, wajahnya yang bulat dan irama bertuturnya yang lambat lebih mengesankan sebagai orang Jawa.
Selama seminggu perhelatan PKSN di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda, Makale, perannya terlihat menonjol. Tubuh bongsornya tak menghalangi untuk lincah wira-wiri, menyapa semua orang. Selama 29 Mei -3 Juni 2019, paroki ini bak berpesta. Semua boleh datang. Semua berbincang, bertukar ilmu dan pengalaman. Semua larut dalam tari, nyanyi, tawa dan canda.
Pastor Carol akan berkeliling, menyapa semua orang, "Sudah makan? Di sini harus makan banyak," katanya.
Makan adalah bagian penting sebuah pesta. Hidangan mengalir tak henti. Para peserta PKSN diinapkan di guest house atau rumah penduduk, tetapi makan pagi, siang, dan malam di pastoran.
Begitu pun para peserta workshop yang kebanyakan adalah OMK setempat. Masih juga ditambah umat yang silih berganti datang. Kami makan bersama di bawah tenda-tenda di muka pastoran atau duduk bersila di lantai panggung lumbung.
Pastor Carol bukan cuma mengurus makan. Ia tak segan menjadi sopir bagi peserta PKSN. Ada banyak mobil yang disediakan untuk antar jemput peserta.
Ia juga pemandu wisata yang baik. Dalam upacara Rambu Solo orang tua Pastor Natan Runtung, ia membawa para peserta PKSN ke salah satu lumbung dengan sudut pandangan terbaik. Namanya juga aktivis Komsos. Ulahnya ya macam-macam, ambil foto, ambil gambar video, siaran langsung di akun medsos masing-masing, atau sekedar akting narsis. Nah, yang terakhir ini paling banyak tentu saja.
Pastor Carol cuma senyum maklum. Saya beruntung bermobil bersamanya dalam kegiatan terakhir ini. "Kita akan ambil jalan pulang memutar," katanya seusai upacara pokok Rambu Solo.
Mobil melewati jalan-jalan kampung dengan pemandangan sawah-sawah subur berpagarkan gunung-gunung batu. Rumah adat atau tongkonan dengan atap berbentuk tanduk kerbau menjulang di antara kehijauan alam pedesaan. Indah seperti foto-foto kalender. Sesekali ia berkisah terkait dengan objek yang kami lewati.
"Jangan mati sebelum datang ke Toraja."
Ah, saya lupa siapa kemarin mengucap itu. Mungkin Pastor Yans. Tapi siapa tahu, mungkin Pastor Carol.
Siapapun itu, menjadi tidak penting. Yang lebih penting adalah, kerja besar telah berhasil diselesaikan.
Selamat, Pastor Carol. Terima kasih atas kebaikan yang telah kami terima.

Selasa, 30 April 2019

Pak Direktur dan Saya


Saya berjumpa dengannya segera sesudah mendaratkan kaki di kampus EAPI, Ateneo de Manila University. Jam dua siang saya tiba. Hanya meletakkan koper di kamar, tanpa istirahat, Romo Satu Manggo langsung memaksa saya pergi ke Marikina untuk membeli keperluan sehari-hari di asrama.
“Ini Pak Direktur,” kata Romo Manggo, mengenalkan saya pada lelaki bertubuh kecil, berkulit legam. Ia hanya beberapa sentimeter lebih tinggi dari saya yang kelewat mungil ini. Erat ia menjabat tangan saya. Ia bicara dengan volume suara keras. Artikulasi bahasa Inggrisnya sangat baik, meski tetap saja asing di telinga saya.
Namanya Francis Jeyaraj Rasiah, seorang Jesuit berkebangsaan Sri Lanka. Usianya sekitar lima puluh tahun. Ia minta dipanggil Jeya, tanpa sebutan pastor, mister atau apapun. Sebutan-sebutan kehormatan di depan nama membuat orang-orang tak bisa berdialog dalam suasana egaliter, begitu alasannya. Jadi, “ Just Jeya.”
“Come, come,” katanya, lantas menggiring kami berdua ke ruang kerjanya, setelah tahu saya akan menular dolar untuk belanja. “Saya beri kamu rate tertinggi. Saya memang sedang membutuhkan dolar,” katanya sambil menyerahkan uang peso. “Besok, datanglah ke ruangan saya. Saya ingin sedikit berbicara denganmu,” ia memungkasi pertemuan siang itu.
Hari-hari selanjutnya saya tak pernah punya keberanian mengetuk pintu ruang kerjanya. Saya khawatir tak mampu memahami bahasa Inggrisnya secara utuh. Bagaimana pun saya telah bersiap, bahasa Inggris saya lebih banyak hasil dari belajar otodidak. Artinya Inggris pasif, hasil dari membaca buku-buku.
Jadi saya lebih baik menghindar. Sampai suatu saat ia memergoki saya di salah satu bagian kampus. Tak bisa menghindar lagi. Saya pun terpaksa mengikuti dia ke ruang kerjanya. Kekhawatiran saya terbukti. Tiap kalimatnya harus diulang tiga kali sampai saya benar-benar paham. “Pardon me..., Sorry, Uhm... again...,” terus begitu. Tapi dia sabar dan tidak pernah mempermalukan.
Mungkin tepatnya, saya takut kepadanya, minder, sebagaimana orang yang biasa kerja di pedalaman Sumatera , tiba-tiba didaratkan di salah satu kampus terbaik di Asia. Beberapa bulan kemudian, setelah saya mampu menangkap berbagai logat bahasa Inggris, saya tetap saja menghidari dia.
Asrama kami dihuni lebih dari 70 orang dari berbagai bangsa Asia dan Afrika, sedikit Eropa. Tiga kali kami makan bersama di ruang yang luas. Saya tahu Pak Direktur biasa duduk dekat meja prasmanan besar. Selalu ada mahasiswa yang menemani dia di situ. Saya, sesudah menyelesaikan antrian cepat-cepat melaluinya, mencari meja yang jauh...jauh...darinya.
Pada suatu makan malam, seperti biasa saya mengusung baki makan saya lewat di dekatnya. Seorang sahabat Bangladesh memanggil saya. “Vero, duduk sini.” --- “Ah dia selalu tidak mau duduk dengan saya,” kata Pak Direktur. Huuu.... malu saya. Jadilah saya duduk di situ. Ia menawarkan nasi kuning khas India pada kami, dengan sedikit ngedumel.
“Suatu saat, saya memuji bahwa nasi kuning ini enak. Selanjutnya, tiap hari juru masak itu membuatkan nasi kuning untuk saya. Ini seperti sebuah hukuman,” katanya. Saya tak mampu menahan tawa. Terkikik-kikik gembira. “That’s yours. Finish it, hikhikhikhik....” Itulah, saya dulu sangat spontan, sering salah ekspresi, dan lupa bertingkah sopan.
Bulan-bulan selanjutnya saya tak punya banyak alasan untuk menghindarinya. Bahkan berani mengusilinya. Tapi sungguh, tidak frontal. Bagaimanapun saya tetap orang kampung yang pemalu.
Pak Direktur orangnya tegas. Suatu saat ia mengancam para mahasiswa yang melakukan pelanggaran. “Saya tak akan segan mengirim kalian pulang ke negaramu, kepada uskupmu, kepada provinsialmu,” katanya. Besok malamnya saya ketemu dia sedang merokok di halaman. “Jeya, I know you broke the rules. You often smoke in your room. I will send you back to Sri Lanka,” saya menirukan gayanya yang sok tegas. Ia menatap saya dengan jenaka, menahan tawa, sampai tersedak asap rokoknya.
Lain kali Pak Direktur benar-benar muangkel pada saya. Saat itu liburan musim panas, sekitar April. Banyak teman telah menyelesaikan modul pelajaran pastoral ministry dan pulang ke negara masing-masing. Semeter pendek musim panas akan dimulai dua minggu kemudian. Saya sebagai mahasiswa beasiswa awam melarat tak bisa ke mana-mana. Kebanyakan teman saya adalah para suster dan pastor, sehingga mereka bisa berlibur di komunitas masing-masing di se-antero Philipina. Kampus dan asrama sangat senyap.
Dalam kejenuhan, salah satu yang saya lakukan adalah menghias ruang doa. Kami punya banyak ruang doa, karena terbiasa misa harian dengan grup kecil, 8-10 orang. Lha ini kan sekolahnya para pastor. Saya saja yang kesasar masuk sini. Demi menghias ruang-ruang tersebut, saya mencari bunga-bunga di areal kampus yang amat luas, puluhan hektar. Saya sampai merambah jurang sepi di depan rumah Jesuit.
Nah ini.... yang menyulut kejengkelan Pak Direktur. Saya juga memetik bunga-bunga di pelataran EAPI. Tanpa saya sadari, ia mengintip dari ruang kerjanya. Jendelanya dia buka sedikit. “Vero, jadi kamu yang selalu mencuri bunga-bungaku. Kamu tahu tidak, bibit tanaman itu saya beli dari provinsi lain.”
“Oh, saya ndak tahulah. Ini cuma mawar kecil-kecil begini dan kembang sepatu, yang di kampung saya bisa tumbuh sendiri tanpa ditanam. Apa sih salahnya kalau dipetik untuk menghias ruang-ruang doa.” Saya ngeyel. Ia cuma geleng-geleng kepala, kehabisan kata-kata.
Tahun 2007 saya pulang dan tak pernah berkontak lagi dengannya. Ia tak punya facebook. Kata teman-teman ia pulang ke Sri Lanka, lalu sempat menjadi provinsial Serikat Jesuit di sana. Saya tak tahu di mana dia kini berada. Mungkin saja masih di negaranya.
Saya kehabisan kata-kata. Apa yang baru saja terjadi, jauh di luar kemampuan saya menalarnya.

Sabtu, 28 April 2018

Achadi, Menteri Transkopada Kabinet Sukarno Terakhir

Sedang menyelesaikan draft buku Napak Tilas. Pembukaan transmigrasi swakarya Gaya Baru dan Sumber Katon berkaitan pula dengan sejarah besar negeri ini.

repost dari : http://aladjai.blogspot.co.id/2013/08/dari-kenangan-makan-pagi-hingga.html?m=1

Selasa, 03 April 2018

JEJAK LANGKAH, Pramudya Ananta Toer

#Kisahkudenganbuku

Beberapa saat lalu bersliweran di linimasa facebook ajakan untuk memajang sampul buku. Just cover, no explanation, katanya.

Saya justru tertantang untuk menceritakan buku2 saya yang sampulnya saya pajang di sini. Termin pertama 3 buku dulu. Sesudah itu baru berani ajak orang lain.

Ini saja  sulit buat saya. Betapa lebih mudah membaca lewat gawai. Betapa lebih mudah menulis komentar nyinyir di status orang lain :) .

#Harike3 : JEJAK LANGKAH, Pramudya Ananta Toer.

Jejak Langkah adalah buku ketiga dari tetralogi PAT yang ditulisnya di Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca).

Setelah kematian isterinya, Annelies Mellema, Minke meninggalkan Surabaya menuju Batavia. Ia masuk STOVIA dan kawin dengan Ang San Mei, gadis tangguh asal China. Setelah Mei meninggal dunia, ia dikeluarkan dari STOVIA dan berjuang mendirikan
 korannya, Medan Priyayi, dan juga organisasi Sarekat Dagang Islam. Karena sebuah tulisan yang menyinggung gubernur jenderal, korannya dilarang terbit. Novel ini diakhiri dengan pnangkapan Minke dan pengasingannya ke luar Jawa.

Buku saya ini merupakan edisi pertama tetralogi Buru yang terbit di Indonesia (1985). Sebelumnya saya sudah baca Bumi Manusia yang diterbitkan di Malaysia. Saya beli buku ini di Shopping Center, Yogyakarta. Seminggu sekali saya menyempatkan diri membaca buku di Perpustakaan Wilayah di Malioboro. Dari situ kadang saya jalan kaki nonton buku di shopping center.  Saya sedang beruntung saja, pas ke sana lihat buku ini.

Dekade 1980-an rezim militer Suharto sedang menderap dengan gagah garangnya. Buku ini barang ilegal. Mengedarkannya bisa berujung penjara. Gak main-main, perbuatan subversif itu. Jadi memiliki buku ini rasanya sesuatu banget.

Waktu itu saya orang baik dan murah hati. Sesudah saya baca, saya izinkan teman2 meminjamnya. Tapi ada satu teman yang huassyuuu tenan. Buku ini dipinjam lama banget, sehingga terpaksa saya tarik paksa. "Rampung ra rampung pokoke balekke bukuku dab."

Buku itu kembali dalam rupa yng kumuh spt ini. Jilidannya pecah, ada bekas sundutan rokok, ada batangan korek api sebagai penanda halaman. Ketika hal ini saya tanyakan, dia jawab begini, "Ya kuwi yen buku apik ki sing nyilih wong akeh." Sambil cengengesan.

Saya marah sih. Tapi sekali lagi, saya dulu orang baik. Kalau marah ya cuma nggondok, nyesek di ulu hati, kehilangan kata-kata. Orang Jogja bo!  Jangan tanya sekarang. Humus hutan Sumatera membuat saya lebih ekspresif, hahaha....

Nah, saya sudah selesai dengan termin pertama, 3 hari 3 buku.

#ayokembalipadabuku

TABIK

Senin, 02 April 2018

The Woman in the Old West America

#Kisahkudenganbuku

Beberapa saat lalu bersliweran di linimasa facebook ajakan untuk memajang sampul buku. Just cover, no explanation, katanya.

Nah! Saya justru menantang diri sendiri untuk menceritakan buku2 saya yang sampulnya saya pajang di sini. Termin pertama 3 buku dulu. Sesudah itu baru berani ajak-ajak orang lain.

Ini saja cukup sulit. Betapa lebih mudah membaca lewat gawai. Betapa lebih mudah menulis komentar nyinyir di status orang lain :) .

~~~
#Harike2: The Woman (The Old West), penulisnya Joan Swallow Reiter.

Tampilan buku ini terlihat klasik sesuai judulnya yaitu tentang peranan para perempuan pada masa eksplorasi wilayah barat Amerika Serikat, pada 1800-an s.d. awal 1900-an. Sampulnya dibalut dengan kulit timbul, seperti ukiran. Mewahlah. Ukurannya A4, tebal 240+ hlm. Diterbitkan sebagai salah satu serial  buku The Old West, pada 1979 (edisi revisi).

Buku terdiri dari 6 bab: Promise in the Lonely Land, The Great Marriage Boom, The Culture Bearer, On the New of Career Trail, A Burst of Free Spirits dan Woman wirh Cause.

Semua tulisan dalam buku ini dilengkapi dengan foto-foto kuno yang amat menarik ttg kehidupan keseharian wilayah barat. Bahkan saya berpikir bahwa sajian utama buku ini adalah foto. Meski demikian tulisan-tulisannya pun amat in-depth. Dengan demikian foto2 itu berbicara, bukan sekedar gambar kosong tentang suatu masa di suatu tempat.

Dengan dibukanya wilayah barat pada 1800-an berbondong-bondonglah para pioner menuju ke sana. Para perempuan harus menaklukkan rasa kesepian dan kehidupan yang keras.  Lebih dari sekedar isteri, wilayah barat menjanjikan mereka peran yang tak diperoleh di wilayah asalnya yang 'civilized'.

Perempuan di wilayah barat mempunyai jasa yang lebih besar dari seluruh perolehan emas di wilayah barat dengan mengelola sekolah, gereja, menegakkan hukum dan ketertiban. Demikian pendapat penulis buku ini. Dengan kata lain (kata saya :) ), perempuan adalah pembawa peradaban.

Di wilayah barat, para perempuan perintis itu tertantang dan merasa bahwa mereka "competence". Selain merintis pendidikan dan peran kegerejaan, mereka juga merambah ke profesi yang pada umumnya adalah ranah laki-laki misalnya pemadam kebakaran atau pengelola ranch.

Pencapaian  yang paling penting adalah mereka mendapatkan hak suara (vote) pada 1900 di empat negara bagian wilayah barat. Mereka menuntut dan berhasil sementara wilayah timur masih terkaget-kaget dgn perjuangan mereka.

Saya sajikan saja beberapa foto dgn keterangan, supaya teman2 bisa mencicipi keindahan buku ini. Fotonya gede2, seukuran 1 atau 2 halaman.

Buku ini saya dapat sebagai hadiah. Seorang teman saya pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan studi konseling di Ateneo de Manila University (ADMU). Sementara saya masih harus tinggal beberapa saat untuk studi pastoral ministry. Ia tak mungkin membawa pulang semua bukunya.

Buku ini adalah salah satu buku yang dia sortir. Dari awal saya jatuh cinta pada buku ini melihat tampilan fisiknya, sesudah membaca isinya apalagi. Cuma buku ini yang saya ambil, sebab saya pun tak mungkin pulang dengan membawa segerbong buku :).

#3hari3buku
#notjustthecover_explainyourbook
#ayokembalipadabuku

Minggu, 01 April 2018

Tentang Pemimpin Gila, Kompasiana, P.K. Ojong

#Kisahkudenganbuku
#3hari3buku


Beberapa saat lalu bersliweran di linimasa facebook ajakan untuk memajang sampul buku. Just cover, no explanation, katanya.

Nah! Saya justru menantang diri sendiri untuk menceritakan buku2 saya yang sampulnya saya pajang di sini. Not just the cover, but explain your book. Termin pertama 3 buku dulu. Sesudah itu baru berani colak-colek orang lain.

Ini saja cukup sulit. Betapa lebih mudah membaca lewat gawai. Betapa lebih mudah menulis komentar nyinyir di status orang lain :) .

#HariPertama: KOMPASIANA, P.K. Ojong

Buku ini diterbitkan oleh Gramedia, 1981. Tebalnya 813+ hlmn. Isinya merupakan kumpulan tulisan dlm rubrik Kompasiana, tentu saja hatian Kompas, 1966 -1971. Ada 443 buah tulisan opini yg terbagi dlm 10 bab: media massa, politik, asimilasi, pendidikan, pelayanan publik, tertib hukum, kebudayaan, ekonomi, model kepemimpinan dan serba serbi Jakarta.

Pembagian topik tsb menunjukkan betapa penulisnya memiliki cakupan pengtahuan yang amat beragam. Latar pendidikannya adalah sekolah guru dan fakultas hukum.

Gaya penulisannya lugas. Topik bahasannya  ttg masalah keseharian yg aktual zaman itu. Meski bagi saya sampai kini pun buku ini tetap memberi pengetahuan dan inspirasi.

Salah satunya ini. Tetang Hitler yang dicakup dlm subjudul Pemimpin-pemimpin Gila (hlm. 706). Hitler itu sexueel abnormal. Ada kemungkinan ia membunuh Geli, sepupunya, atau
memperkosanya, lalu Geli bunuh diri. Struktur kepribadiannya normal tapi bisa dianggap paranoid (megalomania dan takut dibunuh). Kecerdasannya menengah saja tetapi memorinya kuat. 

Sinar matanya konon memancarkan cahaya yg tak terlukiskan. Tak wajar. Ia berpidato dengan gaya demagogik yg luar biasa, yg membuat pengikutnya keranjingan. Ia selalu mengaku paling tahu segala hal von hundefloehen bis zum kriegsfuehren 'dari kutu anjing sampai ilmu perang'.

Seperti juga para pemimpin gila yang lain (ada yg 25%, 50%, 75%, 99%) Hitler juga punya ego yg super tinggi. "Aku tak bisa salah, orang lain yang salah. AKU, sekali lagi AKU yang paling TAHU".

Oh ya buku ini merupakan  pemberian dari penerbit Gramedia, ketika thn 1989 saya mencoba menghidupkan perpustakaan desa Tanjungsari, Kecamatan Petanahan, Kab. Kebumen. Saya mendapat 1 dos besar buku-buku lama atau yang agak cacat produksi. Saya ambil beberapa buku untuk diri sendiri. Ini salah satunya.

#Ayokembalipadabuku
#kisahkudenganbuku
#haripertama

Senin, 26 Maret 2018

Rm. Martin van Ooij: Lebih Nyaman di Desa



Rm. Martin van Ooij mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak terlalu tertarik untuk mengajar agama ketika hadir di suatu tempat baru. Ia lebih suka mendengarkan dan mengenali orang-orang yang dilayaninya. Dari kedekatan relasi ini sedikit atau banyak ia bisa memberi sumbangsih dalam pergulatan hidup mereka. 

Tragedi G30S mengubah ritme kerjanya. Sesudah tahun-tahun krusial itu Romo Martin disibukkan oleh kegiatan mengajar agama. Di berbagai tempat banyak orang berniat menjadi anggota Gereja, akibat sikap keras pemerintah  yang mewajibkan setiap orang untuk menjalankan agama yang dipilihnya. Siang malam ia mengajar kelompok jemaat di Punggur, Kotagajah, Seputih Raman, Seputih Banyak (SB) XIV, Raman Utara, Raman Aji, dan Purbolinggo.



Di beberapa tempat misalnya Seputih Banyak  dan Purbolinggo sebenarnya jemaat Katolik telah ada sebelum tahun 1965. Rm. Vroenhoven adalah pastor yang banyak melayani mereka. Semenjak ada 3 pastor di Metro, daerah-daerah yang pada tahun 1968 menjadi paroki Kotagajah banyak dilayani oleh Rm. van Ooij.  Sejak 1965 jumlah magangan meningkat pesat.  Untuk aktivitasnya ini Rm. van Ooij diberi sebuah landrover.

Sesudah G30S ia membuka stasi-stasi baru antara lain Rumbia III dan IV, Seputih Banyak (SB)  VI, SK I dan II, Bojonegoro dan Purwodadi. Beberapa daerah ini hanya dapat ditempuh dengan sepeda karena belum ada jembatan. Ia pakai jubah putihnya.  Orang-orang Katolik akan tahu bahwa ia seorang pastor dan mengejar laju sepedanya. “Transmigran dari Jawa semua dianggap Islam, sehingga kami harus mencari mereka,” katanya.

Bekerja sama dengan pamong dan penduduk setempat Rm. Van Ooij membangun jembatan sederhana. “Saya bawa palu dan paku, mereka mencari kayu di hutan,” tambahnya. Bersama komunitas jemaat perdana di daerah-daerah baru tersebut ia juga membangun sejumlah kapel.
Karena tumbuhnya jumlah komunitas jemaat yang baru maka 3 pastor di Paroki Metro membagi tugas pelayanan masing-masing. Rm. Van Ooij kecuali stasi-stasi yang telah disebut di atas juga masih tetap melayani Simbarwaringin, Metro 22A dan Bantul. Rm. Vroenhoeven yang sebelum 1965 melayani Seputih Banyak dan sekiarnya, akan lebih fokus melayani stasi pusat Metro. Sementara Rm. Grein melayani Selorejo, Wonogiri dan Jojog.

Persoalan yang kemudian muncul adalah, ada banyak magangan tetapi tidak ada yang mengajar. Rm. Van ooij kemudian mengusulkan kepada uskup untuk mengadakan kursus calon pendamping umat. Novisiat SCJ di Gisting masih kosong, jadi bisa digunakan. Tiap tahun hanya ada satu angkatan dengan lama kursus 1 bulan. Para pengajarnya antara lain Sukoyo, Sukarsono, Pastor Tromp. “Mungkin juga Sr. Yohani FSGM. Suster Goreti HK baru lulus 1970, jadi pasti baru bergabung tahun-tahun sesudahnya,” Rm. van Ooij berusaha keras mengingat-ingat.

Di Metro diadakan pelajaran untuk katekis pembantu setiap hari Minggu. Salah satu pesertanya  adalah Widi Sutrisno, asal Seputih Banyak (SB) XIV, katekis yang banyak mendampingi jemaat perdana stasi-stasi  yang kini disebut sebagai Unit Pastoral Rumbia. Para katekis pembantu  ini mendapat  sekadar insentif dari keuskupan. Dana didapat dari Propaganda Fide melalui Uskup Tanjungkarang, Mgr. Hermelink.

Paroki Kotagajah resmi berdiri pada 1 Agustus 1968. Tetapi para pastor yang melayaninya, termasuk Rm. van Ooij tetap tinggal di pastoran Metro sampai Januari 1970. Sebenarnya hanya sampai Juni 1969, karena ia mengambil cuti dan kursus ke Eropa.  Saat kembali ke Indonesia ia minta kepada uskup untuk pindah ke paroki di desa. “Kalau harus ke Metro lagi, saya ‘mengancam’  untuk pergi ke Kanada,” kata Rm. van Ooij. Dengan berat hati Mgr. Albertus Hermelink mengabulkan permintaannya.

Ia merasa bisa melayani lebih banyak di pedesaan dan bukan sama sekali karena ketidakcocokan dengan konfraternya.   Uskup dapat menerima alasannya tersebut. Dari Januari 1970 sampai Januari 1980 Rm. van Ooij menjadi pastor paroki Kotagajah dan tinggal menetap di sana.
Ada hal yang amat mengesankannya ketika ia penuh waktu malayani Kotagajah. Model berpastoral yang selama ini dijalankannya, yaitu tidak membangun sekolah atau rumah sakit, melainkan terlibat dalam hidup keseharian masyarakat, mendapat tanggapan positif.  Tahun 1967 muncul ide agar para religius membuka komunitas di desa. “Tidak mendirikan apa-apa. Membangun sekolah misalnya,  itu urusan pemerintah,” katanya.

Ia mendampingi Kongregasi Suster-suster Hati Kudus membuka komunitas di Seputih Banyak (SB)  XIV. Waktu mereka mulai membangun rumah biara, tahun 1970, umat sekitar ikut terlibat. Orang tua membantu mencari kayu, anak-anak mencari pasir. “Saya minta suster menyiapkan satu kamar untuk membantu kalau ada orang melahirkan. Tapi tidak perlu mereka membangun klinik.”   Kecuali di Seputih Banyak (SB) XIV Kongregasi HK juga mengembangkan komunitas semcam ini di Ngestirahayu.