Minggu, 20 September 2020

Ziarah

 Aku suka lan-jalan, apapun metodenya. Backpacking sorang-an, dua-an, keluarga-an juga gerombolan, eh... rombongan maksudnya. Tapi hampir sepanjang tahun ini gak bisa ke mana-mana kan ? Jadi, posting foto-foto lama saja sambil berdendang, “Terkenang-kenang wajahmuuu.... dalam rupa yang manis.....”


Biasa pergi sorangan atau bersama keluarga dalam kelompok kecil, kemudian pergi berombongan apalagi labelnya “ziarah” itu susuwatu banget dah! Gratis pula!


Sesudah meninggalkan bangku sekolah, nyaris aku tak pernah jalan-jalan dalam jangka berhari-hari dalam rombongan besar. Ada enaknya sih. Segala susu-asma perjalanan sudah diurus orang lain, bahkan uang saku pun dikasih. Nikmat apalagi hendak kaudustakan hidup di alam Pancasila ini. Kita cuma tinggal duduk, makan, ngantuk-antuk, menikmati perjalanan, turun lalu ... namanya ziarah ya berdoalah. Hehe....


Untuk bisa menikmati perjalanan bersama rombongan besar begini butuh kesabaran dan kerendah-hatian. Usia, latar belakang, minat yang berbeda bisa saja menimbulkan sedikit kejengkelan. Biasa sat-set serba cepat dan praktis, sekarang harus menyesuaikan dengan keinginan banyak orang. Irama perjalanan jadi lambat.


Lambat ini nikmat. Irama hidup tak perlu dipacu kencang terus-menerus. Slow your dance, enjoy the music, give the soul to your every movement, have the taksu !

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10221867325408241&id=1111389015

Jumat, 31 Juli 2020

Bakpao

Bakpao Sederhana


Bahan 1:
250 gram terigu
2,5 sdm gula halus
1/2 sdt garam halus
1 sdm mentega putih
1 kuning telur

Bahan 2:
1 sdm fermipan
1 sdm gula halus
150 ml air hangat

Cara:
1. Tepung, gula, garam diaduk.
2. Campurkan dan aduk bahan 2 dalam gelas. Diamkan 5 menit sampai agak berbusa, lalu masukkan kuning telur, aduk rata.
3. Masukkan adonan bahan 2 ke dalam adonan tepung.  Uleni sampai kalis.
4. Setelah kalis, masukkan mentega yg sudah dicairkan. Uleni lagi sampai kalis atau permukaannya halus.
5. Diamkan 1 jam, tutup dengan serbet basah.
6. Buat bulatan2, pipihkan , beri isi. Bagian bawah beri pelapis kertas roti atau daun pisang. Biarkan 15 menit.
7. Kukus selama sekitar 10 menit.  Tutup kukusan dibungkus dengan serbet basah.

Minggu, 26 Juli 2020

1997 The Year in Review

Harike-6: 1997 The Year in Review
Yang paling terkenang dari 1997adalah kematian Diana, mantan Puteri Wales. Hidupnya bagai mimpi. Dari guru TK yang tenang tanpa sensasi ia bermetamorfosa menjadi calon permaisuri yang tak henti dikejar sorot kamera paparazi. Tanpa ampun mereka memburu Sang Puteri, hingga mobil berkecepatan tinggi yang membawanya bersama kekasih barunya menabrak partisi terowongan Place de l’Alma, Paris. Mati.
Buku ini merupakan hadiah langanan majalah berita Time. Seperti biasa setiap orang yang berlangganan majalah itu dalam durasi setengah atau setahun, mereka akan mendapatkan hadiah yang terasa eksklusif. Pernah lho, suatu saat hadiah yang diberikan adalah kamera semi digital berbentuk pulpen. Seperti anggota BIN aja... .
Kembali ke buku. Tahun 1997 bukan cuma menjadi penanda kematian Diana yang fenomenal itu. Tatapi juga banyak peristiwa penting lainnya. Antara lain seperti dilihat di sampul belakang, di bidang ilmu pengetahuan misalnya, pesawat Pathfinder mendarat di planet Mars, juga telah berhasil dikloning seekor domba bernama Dolly. Peristiwa lainnya, Mike Tyson menggigit telinga Evander Holyfield, kematian perancang mode Versace karena ditembak oleh Andre Cunanan, komet Hale-Bopp mengunjungi atmosfir bumi setelah kunjungan terakhirnya 4200 tahun yang lalu.
Berbagai peristiwa itu tersapu oleh kejadian tragis dini pagi, 31 Agustus 1997. Beberapa menit menjelang pergantian hari, Diana keluar dari hotel Ritz bersama kekasihnya Dody Al Fayed 41 tahun, Diana sendiri 36 saat itu. Karena banyak paparazi menghadang, mereka memutar ke pintu belakang. Gerombolan pemburu gambar itu tak membiarkan buruannya lepas. Mereka mengejar. Dengan kecepatan tinggi mobil mobil Mercedes hitam berisikan Diana, Dody Al Fayed, pengawalnya Trevor Rees-John dan sopir Henri Paul itu melesat.
Saksi mata mengatakan mereka melihat mobil itu memasuki terowongan sekitar pukul 00.30, diikuti rombongan paparazi di atas skuter dan motor. Sejenak kemudian terdengar suara ledakan. Sedan mewah itu menabrak partisi jalan, jungkir balik penuh 360 derajat dan berputar hampir 180 derajat saat terhenti. Mobil itu ringsek. Para paparazi terus merangsek, menembakkan kilat kamera ke arah penumpangnya yang sekarat, terutama Diana.
Diana, boleh jadi merupakan personifikasi mimpi banyak orang. Meski ia memiliki wangsa bangsawan, hidupnya sederhana saja. Usia remajanya pupus oleh pernikahan kerajaan. Tidak seperti dongeng kanak-kanak yang selalu ditutup kalimat “puteri cantik dan baik hati itu bertemu pangeran. Mereka menikah dengan pesta meriah, tinggal di istana mewah, dan hidup bahagia selamanya.” Setelah bertahun hidup dalam rumah tangga yang gersang, keduanya resmi bercerai pada Agustus 1996.
Setahun berikutnya, Juli 1997, Al Fayed Senior, megundang Diana dan dua anaknya berlibur ke vilanya di St. Tropez. Keluarga Diana telah mengenal keluarga ini cukup lama. Sesudah itu kedekatan Diana dan Al Fayed Junior tak terhindarkan dari buruan kamera. Sebuah tabloid mau membayar $ 200.000 untuk foto-foto mereka di atas yacht di hamparan laut biru Mediterania.
Setelah tahun-tahun panjang perkawinannya yang garing, hubungannya dengan lelaki lain yang bermulut cablak, Sang Puteri seperti menemu hati untuk cinta sejati. Tetapi kebersamaan mereka bahkan tak sampai seumur jagung.
Agustus 1997 keduanya bersama menjemput ajal. Kematian yang diratapi banyak kalangan penduduk bumi, dan dikenang lintas generasi.

Senin, 08 Juli 2019

Sang Pewarta Passura’ Suci

Sang Pewarta Passura’ Suci


Pastor Yans Sulo Paganna’ segera menarik perhatian saya saat penerimaan rombongan PKSN dari Makasar di pastoran Makale. Ia salah seorang yang menyampaikan pidato. Sementara yang lain menggunakan bahasa Indonesia, ia menggunakan bahasa Toraja. Lengkap dengan pantun-pantun yang tentu tak dapat saya tangkap maknanya, tetapi saya pahami keindahannya.
Ia mengenakan pakaian khas Toraja warna kuning terang. Pasapu atau tutup kepalanya berbeda dengan yang lain. Miliknya berhiaskan lidi dan bulu-bulu ayam. Konon, ini hanya digunakan oleh orang-orang tertentu. Ia memang seorang pelaksana tata upacara adat Toraja.
“Ayam adalah lambang kejujuran,” demikian katanya, sedikit mengupas filosofi Toraja. Ia seperti ensiklopedi yang terbuka untuk kita belajar tentang Toraja. Pengetahuannya dituangkan ke dalam buku berjudul “Bisikan Suci Passura’ Toraya”, 2018. Ini buku tentang makna di balik ukiran Toraja yang terkenal itu.
Dalam ukiran atau passura’ terkandung nilai-nilai local wisdom Tana Toraja yang diukir dalam simbol-simbol sehingga diharapkan mereka mampu hidup dalam keselarasan. Hal itu misalnya hidup dalam bingkai kesucian dalam motif pa’bua kapa’; kejujuran dalam motif pa’ barra’-barra’; kebersamaan seirama dengan orang lain dalam motif pa’re’po sangbua; altruisme atau berbagi dengan sesama dalam motif limbongan; kerendahan hati dalam motif pa’tuku pare; kokoh dalam prinsip dalam motif pa’kalungkung, dll.
Motif-motif itu terukir indah dalam rumah tongkonan atau rumah adat Toraja. Empat warna dasar yang digunakan adalah merah, hitam, hijau dan kuning, sehingga terlihat cerah. Ukiran harus dibuat dengan teliti dan sepenuh hati sebab seorang tukang ukir tongkonan bukan sekedar bekerja tetapi ia merangkai doa abadi bagi rumpun keluarga pemilik tongkonan. Doa atau pekerjaannya tak boleh salah sebab akan mendatangkan kemalangan. Sebaliknya doa yang tepat akan membuahkan rahmat berlimpah.
Itu sedikit bahasan mengenai buku Rm. Yans Sulo. Ini buku yang amat berharga agar generasi selanjutnya memahami filosofi itu, yang kebanyakan masih disampaikan secara lisan. Verba volant scripta manent.
Saya berharap Rm. Yans Sulo setia menulis lagi tentang nilai-nilai kebijaksanaan lokal Toraja. Meski bagi sayapun, menulis buku (yang bukan saleable) seperti menapaki jalan sunyi, sebuah laku sepi ing pamrih. Sendiri gelisah mengolah dan menyaring ide-ide yang bersliweran liar di kepala. Sendiri menjumpai para narasumber. Sendiri mencari donatur yang mau menerbitkan. Masih lumayanlah kalau hasilnya diapresiasi. Sangat sering, kerabat maunya dapat gratisan padahal dibaca pun tidak.
Tapi, ashudahlah. Tiap orang memilih jalannya dan tahu resikonya. Mari berjalan, mari bersetia.




Kamis, 04 Juli 2019

Romo Carol Patampang, Tuan Rumah PKSN

Namanya RD Carolus Patampang. Dari namanya saja, jelas dia orang asli Toraja. Meski bagi saya, kulitnya yang sedikit gelap, wajahnya yang bulat dan irama bertuturnya yang lambat lebih mengesankan sebagai orang Jawa.
Selama seminggu perhelatan PKSN di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda, Makale, perannya terlihat menonjol. Tubuh bongsornya tak menghalangi untuk lincah wira-wiri, menyapa semua orang. Selama 29 Mei -3 Juni 2019, paroki ini bak berpesta. Semua boleh datang. Semua berbincang, bertukar ilmu dan pengalaman. Semua larut dalam tari, nyanyi, tawa dan canda.
Pastor Carol akan berkeliling, menyapa semua orang, "Sudah makan? Di sini harus makan banyak," katanya.
Makan adalah bagian penting sebuah pesta. Hidangan mengalir tak henti. Para peserta PKSN diinapkan di guest house atau rumah penduduk, tetapi makan pagi, siang, dan malam di pastoran.
Begitu pun para peserta workshop yang kebanyakan adalah OMK setempat. Masih juga ditambah umat yang silih berganti datang. Kami makan bersama di bawah tenda-tenda di muka pastoran atau duduk bersila di lantai panggung lumbung.
Pastor Carol bukan cuma mengurus makan. Ia tak segan menjadi sopir bagi peserta PKSN. Ada banyak mobil yang disediakan untuk antar jemput peserta.
Ia juga pemandu wisata yang baik. Dalam upacara Rambu Solo orang tua Pastor Natan Runtung, ia membawa para peserta PKSN ke salah satu lumbung dengan sudut pandangan terbaik. Namanya juga aktivis Komsos. Ulahnya ya macam-macam, ambil foto, ambil gambar video, siaran langsung di akun medsos masing-masing, atau sekedar akting narsis. Nah, yang terakhir ini paling banyak tentu saja.
Pastor Carol cuma senyum maklum. Saya beruntung bermobil bersamanya dalam kegiatan terakhir ini. "Kita akan ambil jalan pulang memutar," katanya seusai upacara pokok Rambu Solo.
Mobil melewati jalan-jalan kampung dengan pemandangan sawah-sawah subur berpagarkan gunung-gunung batu. Rumah adat atau tongkonan dengan atap berbentuk tanduk kerbau menjulang di antara kehijauan alam pedesaan. Indah seperti foto-foto kalender. Sesekali ia berkisah terkait dengan objek yang kami lewati.
"Jangan mati sebelum datang ke Toraja."
Ah, saya lupa siapa kemarin mengucap itu. Mungkin Pastor Yans. Tapi siapa tahu, mungkin Pastor Carol.
Siapapun itu, menjadi tidak penting. Yang lebih penting adalah, kerja besar telah berhasil diselesaikan.
Selamat, Pastor Carol. Terima kasih atas kebaikan yang telah kami terima.