#Kisahkudenganbuku
Beberapa saat lalu bersliweran di linimasa facebook ajakan untuk memajang sampul buku. Just cover, no explanation, katanya.
Nah! Saya justru menantang diri sendiri untuk menceritakan buku2 saya yang sampulnya saya pajang di sini. Termin pertama 3 buku dulu. Sesudah itu baru berani ajak-ajak orang lain.
Ini saja cukup sulit. Betapa lebih mudah membaca lewat gawai. Betapa lebih mudah menulis komentar nyinyir di status orang lain :) .
~~~
#Harike2: The Woman (The Old West), penulisnya Joan Swallow Reiter.
Tampilan buku ini terlihat klasik sesuai judulnya yaitu tentang peranan para perempuan pada masa eksplorasi wilayah barat Amerika Serikat, pada 1800-an s.d. awal 1900-an. Sampulnya dibalut dengan kulit timbul, seperti ukiran. Mewahlah. Ukurannya A4, tebal 240+ hlm. Diterbitkan sebagai salah satu serial buku The Old West, pada 1979 (edisi revisi).
Buku terdiri dari 6 bab: Promise in the Lonely Land, The Great Marriage Boom, The Culture Bearer, On the New of Career Trail, A Burst of Free Spirits dan Woman wirh Cause.
Semua tulisan dalam buku ini dilengkapi dengan foto-foto kuno yang amat menarik ttg kehidupan keseharian wilayah barat. Bahkan saya berpikir bahwa sajian utama buku ini adalah foto. Meski demikian tulisan-tulisannya pun amat in-depth. Dengan demikian foto2 itu berbicara, bukan sekedar gambar kosong tentang suatu masa di suatu tempat.
Dengan dibukanya wilayah barat pada 1800-an berbondong-bondonglah para pioner menuju ke sana. Para perempuan harus menaklukkan rasa kesepian dan kehidupan yang keras. Lebih dari sekedar isteri, wilayah barat menjanjikan mereka peran yang tak diperoleh di wilayah asalnya yang 'civilized'.
Perempuan di wilayah barat mempunyai jasa yang lebih besar dari seluruh perolehan emas di wilayah barat dengan mengelola sekolah, gereja, menegakkan hukum dan ketertiban. Demikian pendapat penulis buku ini. Dengan kata lain (kata saya :) ), perempuan adalah pembawa peradaban.
Di wilayah barat, para perempuan perintis itu tertantang dan merasa bahwa mereka "competence". Selain merintis pendidikan dan peran kegerejaan, mereka juga merambah ke profesi yang pada umumnya adalah ranah laki-laki misalnya pemadam kebakaran atau pengelola ranch.
Pencapaian yang paling penting adalah mereka mendapatkan hak suara (vote) pada 1900 di empat negara bagian wilayah barat. Mereka menuntut dan berhasil sementara wilayah timur masih terkaget-kaget dgn perjuangan mereka.
Saya sajikan saja beberapa foto dgn keterangan, supaya teman2 bisa mencicipi keindahan buku ini. Fotonya gede2, seukuran 1 atau 2 halaman.
Buku ini saya dapat sebagai hadiah. Seorang teman saya pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan studi konseling di Ateneo de Manila University (ADMU). Sementara saya masih harus tinggal beberapa saat untuk studi pastoral ministry. Ia tak mungkin membawa pulang semua bukunya.
Buku ini adalah salah satu buku yang dia sortir. Dari awal saya jatuh cinta pada buku ini melihat tampilan fisiknya, sesudah membaca isinya apalagi. Cuma buku ini yang saya ambil, sebab saya pun tak mungkin pulang dengan membawa segerbong buku :).
#3hari3buku
#notjustthecover_explainyourbook
#ayokembalipadabuku
Senin, 02 April 2018
Minggu, 01 April 2018
Tentang Pemimpin Gila, Kompasiana, P.K. Ojong
#Kisahkudenganbuku
#3hari3buku
Beberapa saat lalu bersliweran di linimasa facebook ajakan untuk memajang sampul buku. Just cover, no explanation, katanya.
Nah! Saya justru menantang diri sendiri untuk menceritakan buku2 saya yang sampulnya saya pajang di sini. Not just the cover, but explain your book. Termin pertama 3 buku dulu. Sesudah itu baru berani colak-colek orang lain.
Ini saja cukup sulit. Betapa lebih mudah membaca lewat gawai. Betapa lebih mudah menulis komentar nyinyir di status orang lain :) .
#HariPertama: KOMPASIANA, P.K. Ojong
Buku ini diterbitkan oleh Gramedia, 1981. Tebalnya 813+ hlmn. Isinya merupakan kumpulan tulisan dlm rubrik Kompasiana, tentu saja hatian Kompas, 1966 -1971. Ada 443 buah tulisan opini yg terbagi dlm 10 bab: media massa, politik, asimilasi, pendidikan, pelayanan publik, tertib hukum, kebudayaan, ekonomi, model kepemimpinan dan serba serbi Jakarta.
Pembagian topik tsb menunjukkan betapa penulisnya memiliki cakupan pengtahuan yang amat beragam. Latar pendidikannya adalah sekolah guru dan fakultas hukum.
Gaya penulisannya lugas. Topik bahasannya ttg masalah keseharian yg aktual zaman itu. Meski bagi saya sampai kini pun buku ini tetap memberi pengetahuan dan inspirasi.
Salah satunya ini. Tetang Hitler yang dicakup dlm subjudul Pemimpin-pemimpin Gila (hlm. 706). Hitler itu sexueel abnormal. Ada kemungkinan ia membunuh Geli, sepupunya, atau
memperkosanya, lalu Geli bunuh diri. Struktur kepribadiannya normal tapi bisa dianggap paranoid (megalomania dan takut dibunuh). Kecerdasannya menengah saja tetapi memorinya kuat.
Sinar matanya konon memancarkan cahaya yg tak terlukiskan. Tak wajar. Ia berpidato dengan gaya demagogik yg luar biasa, yg membuat pengikutnya keranjingan. Ia selalu mengaku paling tahu segala hal von hundefloehen bis zum kriegsfuehren 'dari kutu anjing sampai ilmu perang'.
Seperti juga para pemimpin gila yang lain (ada yg 25%, 50%, 75%, 99%) Hitler juga punya ego yg super tinggi. "Aku tak bisa salah, orang lain yang salah. AKU, sekali lagi AKU yang paling TAHU".
Oh ya buku ini merupakan pemberian dari penerbit Gramedia, ketika thn 1989 saya mencoba menghidupkan perpustakaan desa Tanjungsari, Kecamatan Petanahan, Kab. Kebumen. Saya mendapat 1 dos besar buku-buku lama atau yang agak cacat produksi. Saya ambil beberapa buku untuk diri sendiri. Ini salah satunya.
#Ayokembalipadabuku
#kisahkudenganbuku
#haripertama
#3hari3buku
Beberapa saat lalu bersliweran di linimasa facebook ajakan untuk memajang sampul buku. Just cover, no explanation, katanya.
Nah! Saya justru menantang diri sendiri untuk menceritakan buku2 saya yang sampulnya saya pajang di sini. Not just the cover, but explain your book. Termin pertama 3 buku dulu. Sesudah itu baru berani colak-colek orang lain.
Ini saja cukup sulit. Betapa lebih mudah membaca lewat gawai. Betapa lebih mudah menulis komentar nyinyir di status orang lain :) .
#HariPertama: KOMPASIANA, P.K. Ojong
Buku ini diterbitkan oleh Gramedia, 1981. Tebalnya 813+ hlmn. Isinya merupakan kumpulan tulisan dlm rubrik Kompasiana, tentu saja hatian Kompas, 1966 -1971. Ada 443 buah tulisan opini yg terbagi dlm 10 bab: media massa, politik, asimilasi, pendidikan, pelayanan publik, tertib hukum, kebudayaan, ekonomi, model kepemimpinan dan serba serbi Jakarta.
Pembagian topik tsb menunjukkan betapa penulisnya memiliki cakupan pengtahuan yang amat beragam. Latar pendidikannya adalah sekolah guru dan fakultas hukum.
Gaya penulisannya lugas. Topik bahasannya ttg masalah keseharian yg aktual zaman itu. Meski bagi saya sampai kini pun buku ini tetap memberi pengetahuan dan inspirasi.
Salah satunya ini. Tetang Hitler yang dicakup dlm subjudul Pemimpin-pemimpin Gila (hlm. 706). Hitler itu sexueel abnormal. Ada kemungkinan ia membunuh Geli, sepupunya, atau
memperkosanya, lalu Geli bunuh diri. Struktur kepribadiannya normal tapi bisa dianggap paranoid (megalomania dan takut dibunuh). Kecerdasannya menengah saja tetapi memorinya kuat.
Sinar matanya konon memancarkan cahaya yg tak terlukiskan. Tak wajar. Ia berpidato dengan gaya demagogik yg luar biasa, yg membuat pengikutnya keranjingan. Ia selalu mengaku paling tahu segala hal von hundefloehen bis zum kriegsfuehren 'dari kutu anjing sampai ilmu perang'.
Seperti juga para pemimpin gila yang lain (ada yg 25%, 50%, 75%, 99%) Hitler juga punya ego yg super tinggi. "Aku tak bisa salah, orang lain yang salah. AKU, sekali lagi AKU yang paling TAHU".
Oh ya buku ini merupakan pemberian dari penerbit Gramedia, ketika thn 1989 saya mencoba menghidupkan perpustakaan desa Tanjungsari, Kecamatan Petanahan, Kab. Kebumen. Saya mendapat 1 dos besar buku-buku lama atau yang agak cacat produksi. Saya ambil beberapa buku untuk diri sendiri. Ini salah satunya.
#Ayokembalipadabuku
#kisahkudenganbuku
#haripertama
Senin, 26 Maret 2018
Rm. Martin van Ooij: Lebih Nyaman di Desa
Rm. Martin van Ooij mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak terlalu tertarik
untuk mengajar agama ketika hadir di suatu tempat baru. Ia lebih suka
mendengarkan dan mengenali orang-orang yang dilayaninya. Dari kedekatan relasi
ini sedikit atau banyak ia bisa memberi sumbangsih dalam pergulatan hidup
mereka.
Tragedi G30S mengubah ritme kerjanya. Sesudah tahun-tahun krusial itu Romo
Martin disibukkan oleh kegiatan mengajar agama. Di berbagai tempat banyak orang
berniat menjadi anggota Gereja, akibat sikap keras pemerintah yang mewajibkan setiap orang untuk
menjalankan agama yang dipilihnya. Siang malam ia mengajar kelompok jemaat di
Punggur, Kotagajah, Seputih Raman, Seputih Banyak (SB) XIV, Raman Utara, Raman
Aji, dan Purbolinggo.
Di beberapa tempat misalnya Seputih Banyak
dan Purbolinggo sebenarnya jemaat Katolik telah ada sebelum tahun 1965.
Rm. Vroenhoven adalah pastor yang banyak melayani mereka. Semenjak ada 3 pastor
di Metro, daerah-daerah yang pada tahun 1968 menjadi paroki Kotagajah banyak
dilayani oleh Rm. van Ooij. Sejak 1965
jumlah magangan meningkat pesat. Untuk
aktivitasnya ini Rm. van Ooij diberi sebuah landrover.
Sesudah G30S ia membuka stasi-stasi baru antara lain Rumbia III dan IV, Seputih
Banyak (SB) VI, SK I dan II, Bojonegoro
dan Purwodadi. Beberapa daerah ini hanya dapat ditempuh dengan sepeda karena
belum ada jembatan. Ia pakai jubah putihnya.
Orang-orang Katolik akan tahu bahwa ia seorang pastor dan mengejar laju
sepedanya. “Transmigran dari Jawa semua dianggap Islam, sehingga kami harus
mencari mereka,” katanya.
Bekerja sama dengan pamong dan penduduk setempat Rm. Van Ooij membangun
jembatan sederhana. “Saya bawa palu dan paku, mereka mencari kayu di hutan,”
tambahnya. Bersama komunitas jemaat perdana di daerah-daerah baru tersebut ia
juga membangun sejumlah kapel.
Karena tumbuhnya jumlah komunitas jemaat yang baru maka 3 pastor di Paroki
Metro membagi tugas pelayanan masing-masing. Rm. Van Ooij kecuali stasi-stasi
yang telah disebut di atas juga masih tetap melayani Simbarwaringin, Metro 22A
dan Bantul. Rm. Vroenhoeven yang sebelum 1965 melayani Seputih Banyak dan
sekiarnya, akan lebih fokus melayani stasi pusat Metro. Sementara Rm. Grein
melayani Selorejo, Wonogiri dan Jojog.
Persoalan yang kemudian muncul adalah, ada banyak magangan tetapi tidak ada
yang mengajar. Rm. Van ooij kemudian mengusulkan kepada uskup untuk mengadakan
kursus calon pendamping umat. Novisiat SCJ di Gisting masih kosong, jadi bisa
digunakan. Tiap tahun hanya ada satu angkatan dengan lama kursus 1 bulan. Para
pengajarnya antara lain Sukoyo, Sukarsono, Pastor Tromp. “Mungkin juga Sr.
Yohani FSGM. Suster Goreti HK baru lulus 1970, jadi pasti baru bergabung
tahun-tahun sesudahnya,” Rm. van Ooij berusaha keras mengingat-ingat.
Di Metro diadakan pelajaran untuk katekis pembantu setiap hari Minggu.
Salah satu pesertanya adalah Widi
Sutrisno, asal Seputih Banyak (SB) XIV, katekis yang banyak mendampingi jemaat
perdana stasi-stasi yang kini disebut
sebagai Unit Pastoral Rumbia. Para katekis pembantu ini mendapat
sekadar insentif dari keuskupan. Dana didapat dari Propaganda Fide
melalui Uskup Tanjungkarang, Mgr. Hermelink.
Paroki Kotagajah resmi berdiri pada 1 Agustus 1968. Tetapi para pastor yang
melayaninya, termasuk Rm. van Ooij tetap tinggal di pastoran Metro sampai
Januari 1970. Sebenarnya hanya sampai Juni 1969, karena ia mengambil cuti dan
kursus ke Eropa. Saat kembali ke
Indonesia ia minta kepada uskup untuk pindah ke paroki di desa. “Kalau harus ke
Metro lagi, saya ‘mengancam’ untuk pergi
ke Kanada,” kata Rm. van Ooij. Dengan berat hati Mgr. Albertus Hermelink
mengabulkan permintaannya.
Ia merasa bisa melayani lebih banyak di pedesaan dan bukan sama sekali karena
ketidakcocokan dengan konfraternya.
Uskup dapat menerima alasannya tersebut. Dari Januari 1970 sampai
Januari 1980 Rm. van Ooij menjadi pastor paroki Kotagajah dan tinggal menetap
di sana.
Ada hal yang amat mengesankannya ketika ia penuh waktu malayani Kotagajah.
Model berpastoral yang selama ini dijalankannya, yaitu tidak membangun sekolah
atau rumah sakit, melainkan terlibat dalam hidup keseharian masyarakat,
mendapat tanggapan positif. Tahun 1967
muncul ide agar para religius membuka komunitas di desa. “Tidak mendirikan apa-apa.
Membangun sekolah misalnya, itu urusan
pemerintah,” katanya.
Ia mendampingi Kongregasi Suster-suster Hati Kudus membuka komunitas di Seputih
Banyak (SB) XIV. Waktu mereka mulai
membangun rumah biara, tahun 1970, umat sekitar ikut terlibat. Orang tua
membantu mencari kayu, anak-anak mencari pasir. “Saya minta suster menyiapkan
satu kamar untuk membantu kalau ada orang melahirkan. Tapi tidak perlu mereka
membangun klinik.” Kecuali di Seputih
Banyak (SB) XIV Kongregasi HK juga mengembangkan komunitas semcam ini di
Ngestirahayu.
Jumat, 09 Februari 2018
KEKERASAN TERHADAP GURU
![]() |
| Gambar dari http://psychlearningcurve.org/violence-against-teachers/ |
Kekerasan terhadap guru (pengajar) terjadi karena posisinya
bisa jadi memang rentan terhadap pemangku kepentingan yang lain di tempat ia
bekerja. Saya pernah merasakannya maka bisa bercerita.
Dalam rentang waktu yang lumayan lama saya pernah mengajar
di perguruan tinggi swasta. Bukan sok-sokan untuk aktualisasi diri atau apalah.
Tapi karena sebagai buruh rendahan saya harus srobot sana srobot sini supaya
asap dapur bisa ngebul selama sebulan. Orang tidak bisa hidup dari Sabda Tuhan
saja toh?
Saya mengendalikan diri untuk tidak berpikir dan tidak
bertindak rasis. Tapi, maaf saya harus mengatakan, tiap daerah itu mempunyai
karakter yang khas. Umumnya begitu. Orang di Sumatera beda dengan di Jawa.
Lebih keras tentunya, dan itu harus disikapi dengan cara yang lebih tegas pula. Saya menjalani SMA dan perguruan tinggi di Yogyakarta. Di
sana secara umum saya bisa katakan, para siswa dan mahasiswa mempunyai
penghormatan yang baik terhadap para pengajar. Peserta didik yang datang dari
berbagai tempat di Indonesia lebih punya etos belajar yang kuat.
Di tempat saya pernah bekerja suasananya berbeda. Masuk
kelas suasana ribut bukan kepalang itu sudah biasa. Disuruh masuk tepat waktu
susahnya bukan main. Diberi buku referensi jangan harap akan dibaca. Di tengah
suasana begini tentu ada sejumlah mahasiswa yang punya kualitas istimewa
tentunya.
Sebagai pengajar saya dan juga pengajar yang lain menghadapi
tekanan dari pihak lembaga pula. Harus mampu meng-handle kelas, harus mampu
membuat suasana belajar mengajar menjadi menarik, dan hasil UAS mahasiswa harus tinggi. Kalau itu tidak
terpenuhi, yang salah ya si pengajar.
Setiap pertengahan semester diedarkan angket kepada
mahasiswa untuk menilai pengajar. Aspek yang dinilai tidak sekedar bidang ilmu
yang diampunya saja, tetapi juga meliputi misalnya, apakah pengajar bisa
mengendalikan emosi, bisa memberi wawasan dan motivasi, bisa melucu sehingga
mahasiswa tidak mengantuk, bisa punya waktu untuk diminta konsultasi di luar
kelas, dll. Pokoknya pengajar itu harus seorang yang cerdas secara keilmuan
sekaligus seorang motivator dan seorang penghibur.
Ketika tahun pertama mengajar hasil angket saya
ancur-ancuran. Saya dinilai jutek, tak bisa melawak, mata kuliah saya (Bahasa Indonesia) tak
berguna, pelit senyum, pelit nilai. Nah,
di jurusan sekretaris, di sini
mahasiswinya cuantik dan modis, saya dinilai berpenampilan kacau. Rambut sering
acak-acakan, warna baju atas dan bawah sering tidak match-in, sudah pendek
gemuk eh tidak mau pakai sepatu berhak, dll. Seiring waktu, angket untuk saya baik-baik saja. Satu yang sulit berubah, saya
dinilai terlalu serius dan tidak pandai bercanda sehingga mahasiswa sungkan
akrab. Ok-lah.
Hasil angket yang buruk bisa membuat pengajar magang ditendang.
Juga sama akibatnya bagi pengajar paruh waktu yang biasanya cuma dikontrak per
satu semester. Maka tidak heran banyak pengajar yang sangat berusaha untuk
mengambil hati mahasiswa.
Karena merasa butir-butir angket itu bisa menghasilkan
penilaian yang kurang objektif, suatu waktu saya mengedarkan selembar kertas.
Saya minta mahasiswa memberi penilaian secara terurai pada dua hal saja yaitu
materi pengajaran dan cara mengajar. Selanjutnya mereka boleh mengkritik dan
memberi usulan. Nah di sini cerita dimulai.
Saya minta seorang mahasiwa mengumpulkan kertas-kertas tanpa
nama tersebut. Seorang mahasiswi (sampai sekarang pun saya ingat wajahnya tapi
lupa namanya) memberikan kertasnya langsung kepada saya. Hanya sebuah kalimat
ditulisnya, “Saya tidak layak mendapat nilai C.”
Semula saya tidak ambil pusing dengan kertas itu. Seusai UAS
saya hitung nilai dia ya hanya cukup untuk mendapat nilai C. Tetapi, tak berapa
lama setelah KHS dibagi saya dipanggil ketua jurusan. “Bu, ada telepon dari
salah satu orang tua mahasiswa yang mengatakan bahwa nilai pelajaran Ibu di
salah satu kelas C semua. Saya sudah periksa daftar nilai Ibu, itu tidak
benar,” katanya. Ketua jurusan
menyarankan saya menghadap pemilik perguruan.
Bapak X, pemilik perguruan itu, sudah pula ditelpon oleh
yang bersangkutan. Tanggapannya pada saya baik, dan menganggap saya tidak
bersalah . Tetapi saya diminta menyelesaikan masalah ini nyaris sendiri. Ia
lalu memberi saya nomor telepon ibu itu, yang mengaku seorang peserta program
S3 Universitas Padjadjaran. “Undang dia datang ke sini dan siapkan nilai-nilai
anaknya,” kata Pak X.
Tiga hari terus-terusan bolak-balik saya telpon nomor itu.
Tak ada sahutan sama sekali. Saya lapor pada yang berkepentingan. “Eh, cuma
mahasiswa kurang ajar rupanya,” kata Pak X. Masalah selesai.
Sebenarnya seberapa penting angket semacam itu? Bisa penting
sekali. Perguruan tinggi (swasta) bisa tak laku kalau mahasiswanya sulit lulus,
atau IPK pada ijazahnya kecil-kecil. Mahasiswa tahu itu. Maka sebagian mereka
jadi punya “senjata” untuk menekan
pengajar. Sebego dan sendableg apapun mereka harus diluluskan toh? Mau jadi apa
perguruan tinggi yang mahasiswanya tak lulus-lulus? Mungkin begitu yang ada di
benak mereka.
Pengajar jadi terhimpit dari dua pihak. Mahasiswa menuntut pengajar
yang kompromistis, perguruan tinggi menuntut pengajar berkualitas sekaligus
“dicintai” mahasiswa. Dan kalau sudah
masalah perut, si pengajar berakrobatlah untuk berusaha menjadi manusia super.
Oh, ada lagi kekerasan atau perundungan yang saya alami.
Pernah dalam suatu kelas ada beberapa orang jadi biang ribut. Salah satunya
menggulung celana panjangnya sebatas lutut, duduk tepat di depan saya. Kelas
yang lain pernah beberapa mahasiswa sengaja membunyikan ponsel untuk memancing
keributan. Pernah terjadi dua mahasiswa gampar-gamparan di kelas saya. Untung
saya cukup senior saat itu dan dianggap mampu meng-handle kelas. Jadi saya
tidak disalah-salahkan. Juga saya cukup berani memberi nilai E pada jenis mahasiswa
begini. Suatu saat datang seorang wali mahasiswa menanyakan kenapa anaknya
tidak lulus (yang ini sopan, setelah
diterangkan dia mengerti. Malah cerita tentang kebiasaan memanjakan anak lelaki
utamanya sulung pada sukunya).
Saya yakin bahwaA saya alami dialami pula oleh para pengajar
di perguruan tinggi swasta yang lain. Atau juga di sekolah menengah. Saya cukup
paham bahwa untuk pengajar muda dibutuhkan keberanian untuk bersikap tegas.
Satu lagi, mungkin perlu dilatih bela diri. J. Serius J
!
Minggu, 21 Januari 2018
GETSEMANE ~sesaat, Tuhan pun diam~
Gusti Jesus banjur rawuh maneh ing panggonane para sekabat, sing padha kadhawuhan ngrewangi melek. Sekabat mau satemene ora bisa nyaosi pitulungan apa-apa, nanging katresnane wis bisa gawe lejaring galihe. Sarawuhe ing kono, sekabat telu mau padha keturon maneh, jalaran mripate mbliyut, awake sayah, atine sedhih tur ora mudheng apa sing njalari Gustine nandhang sungkawa lan giris.
Sekabat mau banjur ditilar maneh ndedonga kaping telune. Saking bangete enggone nandhang giris, lan saking bantere enggone mbatek ing pandonga, riwene dleweran nganti kaya tetesing getih rumentah ing bumi. Sakehing siksa lan sangsara kang bakal tumempuh ing sarirane iku umpamane kaya dene wisa sing diwadhahi tuwung, kacaosake marang Gusti Jesus supaya kaunjuka. Mula ature ing pandonga, "Menawi kepareng, Tuwan mugi nyingkiraken tuwung punika saking kawula. Ewadene, sanajana banget enggone kapetek ing sungkawa lan giris, Panjenengane isih kuwawi munjuk,"Semanten ugi sampun ngantos sakajeng kawula, namunga ing sakarsa Tuwan." Gusti Jesus pasrah jiwangga marang Allah Sang Rama ing swarga.
Dumakan ana pepadhang cumlorot ing celake Gusti Jesus, malaekat saka ing swarga kautus nyantosakake galihe. Wusanane Gusti klawan tatag munjuk marang Sang Rama, "Namung karsa Tuwan kalampahana."
(Menyadur buku Babad_Saka_Kitab_Sutji hlm. 127 - 128). Hening, larut dalam keindahan bahasa dan kedalaman makna. Buku terbit 1960
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Sang Pewarta Passura’ Suci Pastor Yans Sulo Paganna’ segera menarik perhatian saya saat penerimaan rombongan PKSN dari Makasar...
-
Bakpao Sederhana Bahan 1: 250 gram terigu 2,5 sdm gula halus 1/2 sdt garam halus 1 sdm mentega putih 1 kuning telur Bahan 2: 1...
-
#Kisahkudenganbuku Beberapa saat lalu bersliweran di linimasa facebook ajakan untuk memajang sampul buku. Just cover, no explanation, kata...





