Bakpao Sederhana
Bahan 1:
250 gram terigu
2,5 sdm gula halus
1/2 sdt garam halus
1 sdm mentega putih
1 kuning telur
Bahan 2:
1 sdm fermipan
1 sdm gula halus
150 ml air hangat
Cara:
1. Tepung, gula, garam diaduk.
2. Campurkan dan aduk bahan 2 dalam gelas. Diamkan 5 menit sampai agak berbusa, lalu masukkan kuning telur, aduk rata.
3. Masukkan adonan bahan 2 ke dalam adonan tepung. Uleni sampai kalis.
4. Setelah kalis, masukkan mentega yg sudah dicairkan. Uleni lagi sampai kalis atau permukaannya halus.
5. Diamkan 1 jam, tutup dengan serbet basah.
6. Buat bulatan2, pipihkan , beri isi. Bagian bawah beri pelapis kertas roti atau daun pisang. Biarkan 15 menit.
7. Kukus selama sekitar 10 menit. Tutup kukusan dibungkus dengan serbet basah.
Jumat, 31 Juli 2020
Minggu, 26 Juli 2020
1997 The Year in Review
Harike-6: 1997 The Year in Review
Yang paling terkenang dari 1997adalah kematian Diana, mantan Puteri Wales. Hidupnya bagai mimpi. Dari guru TK yang tenang tanpa sensasi ia bermetamorfosa menjadi calon permaisuri yang tak henti dikejar sorot kamera paparazi. Tanpa ampun mereka memburu Sang Puteri, hingga mobil berkecepatan tinggi yang membawanya bersama kekasih barunya menabrak partisi terowongan Place de l’Alma, Paris. Mati.
Buku ini merupakan hadiah langanan majalah berita Time. Seperti biasa setiap orang yang berlangganan majalah itu dalam durasi setengah atau setahun, mereka akan mendapatkan hadiah yang terasa eksklusif. Pernah lho, suatu saat hadiah yang diberikan adalah kamera semi digital berbentuk pulpen. Seperti anggota BIN aja... .
Kembali ke buku. Tahun 1997 bukan cuma menjadi penanda kematian Diana yang fenomenal itu. Tatapi juga banyak peristiwa penting lainnya. Antara lain seperti dilihat di sampul belakang, di bidang ilmu pengetahuan misalnya, pesawat Pathfinder mendarat di planet Mars, juga telah berhasil dikloning seekor domba bernama Dolly. Peristiwa lainnya, Mike Tyson menggigit telinga Evander Holyfield, kematian perancang mode Versace karena ditembak oleh Andre Cunanan, komet Hale-Bopp mengunjungi atmosfir bumi setelah kunjungan terakhirnya 4200 tahun yang lalu.
Berbagai peristiwa itu tersapu oleh kejadian tragis dini pagi, 31 Agustus 1997. Beberapa menit menjelang pergantian hari, Diana keluar dari hotel Ritz bersama kekasihnya Dody Al Fayed 41 tahun, Diana sendiri 36 saat itu. Karena banyak paparazi menghadang, mereka memutar ke pintu belakang. Gerombolan pemburu gambar itu tak membiarkan buruannya lepas. Mereka mengejar. Dengan kecepatan tinggi mobil mobil Mercedes hitam berisikan Diana, Dody Al Fayed, pengawalnya Trevor Rees-John dan sopir Henri Paul itu melesat.
Saksi mata mengatakan mereka melihat mobil itu memasuki terowongan sekitar pukul 00.30, diikuti rombongan paparazi di atas skuter dan motor. Sejenak kemudian terdengar suara ledakan. Sedan mewah itu menabrak partisi jalan, jungkir balik penuh 360 derajat dan berputar hampir 180 derajat saat terhenti. Mobil itu ringsek. Para paparazi terus merangsek, menembakkan kilat kamera ke arah penumpangnya yang sekarat, terutama Diana.
Diana, boleh jadi merupakan personifikasi mimpi banyak orang. Meski ia memiliki wangsa bangsawan, hidupnya sederhana saja. Usia remajanya pupus oleh pernikahan kerajaan. Tidak seperti dongeng kanak-kanak yang selalu ditutup kalimat “puteri cantik dan baik hati itu bertemu pangeran. Mereka menikah dengan pesta meriah, tinggal di istana mewah, dan hidup bahagia selamanya.” Setelah bertahun hidup dalam rumah tangga yang gersang, keduanya resmi bercerai pada Agustus 1996.
Setahun berikutnya, Juli 1997, Al Fayed Senior, megundang Diana dan dua anaknya berlibur ke vilanya di St. Tropez. Keluarga Diana telah mengenal keluarga ini cukup lama. Sesudah itu kedekatan Diana dan Al Fayed Junior tak terhindarkan dari buruan kamera. Sebuah tabloid mau membayar $ 200.000 untuk foto-foto mereka di atas yacht di hamparan laut biru Mediterania.
Setelah tahun-tahun panjang perkawinannya yang garing, hubungannya dengan lelaki lain yang bermulut cablak, Sang Puteri seperti menemu hati untuk cinta sejati. Tetapi kebersamaan mereka bahkan tak sampai seumur jagung.
Agustus 1997 keduanya bersama menjemput ajal. Kematian yang diratapi banyak kalangan penduduk bumi, dan dikenang lintas generasi.
Agustus 1997 keduanya bersama menjemput ajal. Kematian yang diratapi banyak kalangan penduduk bumi, dan dikenang lintas generasi.
Senin, 08 Juli 2019
Sang Pewarta Passura’ Suci
Sang Pewarta Passura’ Suci
Pastor Yans Sulo Paganna’ segera menarik perhatian saya saat penerimaan rombongan PKSN dari Makasar di pastoran Makale. Ia salah seorang yang menyampaikan pidato. Sementara yang lain menggunakan bahasa Indonesia, ia menggunakan bahasa Toraja. Lengkap dengan pantun-pantun yang tentu tak dapat saya tangkap maknanya, tetapi saya pahami keindahannya.
Ia mengenakan pakaian khas Toraja warna kuning terang. Pasapu atau tutup kepalanya berbeda dengan yang lain. Miliknya berhiaskan lidi dan bulu-bulu ayam. Konon, ini hanya digunakan oleh orang-orang tertentu. Ia memang seorang pelaksana tata upacara adat Toraja.
“Ayam adalah lambang kejujuran,” demikian katanya, sedikit mengupas filosofi Toraja. Ia seperti ensiklopedi yang terbuka untuk kita belajar tentang Toraja. Pengetahuannya dituangkan ke dalam buku berjudul “Bisikan Suci Passura’ Toraya”, 2018. Ini buku tentang makna di balik ukiran Toraja yang terkenal itu.
Dalam ukiran atau passura’ terkandung nilai-nilai local wisdom Tana Toraja yang diukir dalam simbol-simbol sehingga diharapkan mereka mampu hidup dalam keselarasan. Hal itu misalnya hidup dalam bingkai kesucian dalam motif pa’bua kapa’; kejujuran dalam motif pa’ barra’-barra’; kebersamaan seirama dengan orang lain dalam motif pa’re’po sangbua; altruisme atau berbagi dengan sesama dalam motif limbongan; kerendahan hati dalam motif pa’tuku pare; kokoh dalam prinsip dalam motif pa’kalungkung, dll.
Motif-motif itu terukir indah dalam rumah tongkonan atau rumah adat Toraja. Empat warna dasar yang digunakan adalah merah, hitam, hijau dan kuning, sehingga terlihat cerah. Ukiran harus dibuat dengan teliti dan sepenuh hati sebab seorang tukang ukir tongkonan bukan sekedar bekerja tetapi ia merangkai doa abadi bagi rumpun keluarga pemilik tongkonan. Doa atau pekerjaannya tak boleh salah sebab akan mendatangkan kemalangan. Sebaliknya doa yang tepat akan membuahkan rahmat berlimpah.
Itu sedikit bahasan mengenai buku Rm. Yans Sulo. Ini buku yang amat berharga agar generasi selanjutnya memahami filosofi itu, yang kebanyakan masih disampaikan secara lisan. Verba volant scripta manent.
Saya berharap Rm. Yans Sulo setia menulis lagi tentang nilai-nilai kebijaksanaan lokal Toraja. Meski bagi sayapun, menulis buku (yang bukan saleable) seperti menapaki jalan sunyi, sebuah laku sepi ing pamrih. Sendiri gelisah mengolah dan menyaring ide-ide yang bersliweran liar di kepala. Sendiri menjumpai para narasumber. Sendiri mencari donatur yang mau menerbitkan. Masih lumayanlah kalau hasilnya diapresiasi. Sangat sering, kerabat maunya dapat gratisan padahal dibaca pun tidak.
Tapi, ashudahlah. Tiap orang memilih jalannya dan tahu resikonya. Mari berjalan, mari bersetia.
Kamis, 04 Juli 2019
Romo Carol Patampang, Tuan Rumah PKSN
Namanya RD Carolus Patampang. Dari namanya saja, jelas dia orang asli Toraja. Meski bagi saya, kulitnya yang sedikit gelap, wajahnya yang bulat dan irama bertuturnya yang lambat lebih mengesankan sebagai orang Jawa.
Selama seminggu perhelatan PKSN di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda, Makale, perannya terlihat menonjol. Tubuh bongsornya tak menghalangi untuk lincah wira-wiri, menyapa semua orang. Selama 29 Mei -3 Juni 2019, paroki ini bak berpesta. Semua boleh datang. Semua berbincang, bertukar ilmu dan pengalaman. Semua larut dalam tari, nyanyi, tawa dan canda.
Pastor Carol akan berkeliling, menyapa semua orang, "Sudah makan? Di sini harus makan banyak," katanya.
Makan adalah bagian penting sebuah pesta. Hidangan mengalir tak henti. Para peserta PKSN diinapkan di guest house atau rumah penduduk, tetapi makan pagi, siang, dan malam di pastoran.
Begitu pun para peserta workshop yang kebanyakan adalah OMK setempat. Masih juga ditambah umat yang silih berganti datang. Kami makan bersama di bawah tenda-tenda di muka pastoran atau duduk bersila di lantai panggung lumbung.
Pastor Carol bukan cuma mengurus makan. Ia tak segan menjadi sopir bagi peserta PKSN. Ada banyak mobil yang disediakan untuk antar jemput peserta.
Ia juga pemandu wisata yang baik. Dalam upacara Rambu Solo orang tua Pastor Natan Runtung, ia membawa para peserta PKSN ke salah satu lumbung dengan sudut pandangan terbaik. Namanya juga aktivis Komsos. Ulahnya ya macam-macam, ambil foto, ambil gambar video, siaran langsung di akun medsos masing-masing, atau sekedar akting narsis. Nah, yang terakhir ini paling banyak tentu saja.
Pastor Carol cuma senyum maklum. Saya beruntung bermobil bersamanya dalam kegiatan terakhir ini. "Kita akan ambil jalan pulang memutar," katanya seusai upacara pokok Rambu Solo.
Mobil melewati jalan-jalan kampung dengan pemandangan sawah-sawah subur berpagarkan gunung-gunung batu. Rumah adat atau tongkonan dengan atap berbentuk tanduk kerbau menjulang di antara kehijauan alam pedesaan. Indah seperti foto-foto kalender. Sesekali ia berkisah terkait dengan objek yang kami lewati.
"Jangan mati sebelum datang ke Toraja."
Ah, saya lupa siapa kemarin mengucap itu. Mungkin Pastor Yans. Tapi siapa tahu, mungkin Pastor Carol.
Siapapun itu, menjadi tidak penting. Yang lebih penting adalah, kerja besar telah berhasil diselesaikan.
Selamat, Pastor Carol. Terima kasih atas kebaikan yang telah kami terima.
Selasa, 30 April 2019
Pak Direktur dan Saya
Saya berjumpa dengannya segera sesudah mendaratkan kaki di kampus EAPI, Ateneo de Manila University. Jam dua siang saya tiba. Hanya meletakkan koper di kamar, tanpa istirahat, Romo Satu Manggo langsung memaksa saya pergi ke Marikina untuk membeli keperluan sehari-hari di asrama.
“Ini Pak Direktur,” kata Romo Manggo, mengenalkan saya pada lelaki bertubuh kecil, berkulit legam. Ia hanya beberapa sentimeter lebih tinggi dari saya yang kelewat mungil ini. Erat ia menjabat tangan saya. Ia bicara dengan volume suara keras. Artikulasi bahasa Inggrisnya sangat baik, meski tetap saja asing di telinga saya.
Namanya Francis Jeyaraj Rasiah, seorang Jesuit berkebangsaan Sri Lanka. Usianya sekitar lima puluh tahun. Ia minta dipanggil Jeya, tanpa sebutan pastor, mister atau apapun. Sebutan-sebutan kehormatan di depan nama membuat orang-orang tak bisa berdialog dalam suasana egaliter, begitu alasannya. Jadi, “ Just Jeya.”
“Come, come,” katanya, lantas menggiring kami berdua ke ruang kerjanya, setelah tahu saya akan menular dolar untuk belanja. “Saya beri kamu rate tertinggi. Saya memang sedang membutuhkan dolar,” katanya sambil menyerahkan uang peso. “Besok, datanglah ke ruangan saya. Saya ingin sedikit berbicara denganmu,” ia memungkasi pertemuan siang itu.
Hari-hari selanjutnya saya tak pernah punya keberanian mengetuk pintu ruang kerjanya. Saya khawatir tak mampu memahami bahasa Inggrisnya secara utuh. Bagaimana pun saya telah bersiap, bahasa Inggris saya lebih banyak hasil dari belajar otodidak. Artinya Inggris pasif, hasil dari membaca buku-buku.
Jadi saya lebih baik menghindar. Sampai suatu saat ia memergoki saya di salah satu bagian kampus. Tak bisa menghindar lagi. Saya pun terpaksa mengikuti dia ke ruang kerjanya. Kekhawatiran saya terbukti. Tiap kalimatnya harus diulang tiga kali sampai saya benar-benar paham. “Pardon me..., Sorry, Uhm... again...,” terus begitu. Tapi dia sabar dan tidak pernah mempermalukan.
Mungkin tepatnya, saya takut kepadanya, minder, sebagaimana orang yang biasa kerja di pedalaman Sumatera , tiba-tiba didaratkan di salah satu kampus terbaik di Asia. Beberapa bulan kemudian, setelah saya mampu menangkap berbagai logat bahasa Inggris, saya tetap saja menghidari dia.
Asrama kami dihuni lebih dari 70 orang dari berbagai bangsa Asia dan Afrika, sedikit Eropa. Tiga kali kami makan bersama di ruang yang luas. Saya tahu Pak Direktur biasa duduk dekat meja prasmanan besar. Selalu ada mahasiswa yang menemani dia di situ. Saya, sesudah menyelesaikan antrian cepat-cepat melaluinya, mencari meja yang jauh...jauh...darinya.
Pada suatu makan malam, seperti biasa saya mengusung baki makan saya lewat di dekatnya. Seorang sahabat Bangladesh memanggil saya. “Vero, duduk sini.” --- “Ah dia selalu tidak mau duduk dengan saya,” kata Pak Direktur. Huuu.... malu saya. Jadilah saya duduk di situ. Ia menawarkan nasi kuning khas India pada kami, dengan sedikit ngedumel.
“Suatu saat, saya memuji bahwa nasi kuning ini enak. Selanjutnya, tiap hari juru masak itu membuatkan nasi kuning untuk saya. Ini seperti sebuah hukuman,” katanya. Saya tak mampu menahan tawa. Terkikik-kikik gembira. “That’s yours. Finish it, hikhikhikhik....” Itulah, saya dulu sangat spontan, sering salah ekspresi, dan lupa bertingkah sopan.
Bulan-bulan selanjutnya saya tak punya banyak alasan untuk menghindarinya. Bahkan berani mengusilinya. Tapi sungguh, tidak frontal. Bagaimanapun saya tetap orang kampung yang pemalu.
Pak Direktur orangnya tegas. Suatu saat ia mengancam para mahasiswa yang melakukan pelanggaran. “Saya tak akan segan mengirim kalian pulang ke negaramu, kepada uskupmu, kepada provinsialmu,” katanya. Besok malamnya saya ketemu dia sedang merokok di halaman. “Jeya, I know you broke the rules. You often smoke in your room. I will send you back to Sri Lanka,” saya menirukan gayanya yang sok tegas. Ia menatap saya dengan jenaka, menahan tawa, sampai tersedak asap rokoknya.
Lain kali Pak Direktur benar-benar muangkel pada saya. Saat itu liburan musim panas, sekitar April. Banyak teman telah menyelesaikan modul pelajaran pastoral ministry dan pulang ke negara masing-masing. Semeter pendek musim panas akan dimulai dua minggu kemudian. Saya sebagai mahasiswa beasiswa awam melarat tak bisa ke mana-mana. Kebanyakan teman saya adalah para suster dan pastor, sehingga mereka bisa berlibur di komunitas masing-masing di se-antero Philipina. Kampus dan asrama sangat senyap.
Dalam kejenuhan, salah satu yang saya lakukan adalah menghias ruang doa. Kami punya banyak ruang doa, karena terbiasa misa harian dengan grup kecil, 8-10 orang. Lha ini kan sekolahnya para pastor. Saya saja yang kesasar masuk sini. Demi menghias ruang-ruang tersebut, saya mencari bunga-bunga di areal kampus yang amat luas, puluhan hektar. Saya sampai merambah jurang sepi di depan rumah Jesuit.
Nah ini.... yang menyulut kejengkelan Pak Direktur. Saya juga memetik bunga-bunga di pelataran EAPI. Tanpa saya sadari, ia mengintip dari ruang kerjanya. Jendelanya dia buka sedikit. “Vero, jadi kamu yang selalu mencuri bunga-bungaku. Kamu tahu tidak, bibit tanaman itu saya beli dari provinsi lain.”
“Oh, saya ndak tahulah. Ini cuma mawar kecil-kecil begini dan kembang sepatu, yang di kampung saya bisa tumbuh sendiri tanpa ditanam. Apa sih salahnya kalau dipetik untuk menghias ruang-ruang doa.” Saya ngeyel. Ia cuma geleng-geleng kepala, kehabisan kata-kata.
Tahun 2007 saya pulang dan tak pernah berkontak lagi dengannya. Ia tak punya facebook. Kata teman-teman ia pulang ke Sri Lanka, lalu sempat menjadi provinsial Serikat Jesuit di sana. Saya tak tahu di mana dia kini berada. Mungkin saja masih di negaranya.
Saya kehabisan kata-kata. Apa yang baru saja terjadi, jauh di luar kemampuan saya menalarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Sang Pewarta Passura’ Suci Pastor Yans Sulo Paganna’ segera menarik perhatian saya saat penerimaan rombongan PKSN dari Makasar...
-
Bakpao Sederhana Bahan 1: 250 gram terigu 2,5 sdm gula halus 1/2 sdt garam halus 1 sdm mentega putih 1 kuning telur Bahan 2: 1...
-
#Kisahkudenganbuku Beberapa saat lalu bersliweran di linimasa facebook ajakan untuk memajang sampul buku. Just cover, no explanation, kata...











